RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Setiap Muslim tahu, puasa di bulan Ramadhan itu wajib—ini bagian dari rukun Islam. Tapi hidup nggak selalu ideal, kan? Kadang-kadang orang terpaksa batal puasa atau nggak bisa sama sekali karena alasan yang dibenarkan syariat, atau dalam istilahnya uzur syar’i.
Bisa karena sakit, sedang dalam perjalanan jauh, perempuan yang haid atau nifas, atau juga ibu yang menyusui.
Islam sendiri paham kok, nggak semua orang punya kondisi yang sama. Jadi, untuk yang punya uzur ini, ada keringanan tapi tetep, puasa yang bolong itu harus diganti di hari lain setelah Ramadhan. Inilah yang kita sebut dengan puasa qadha.
Nah, sebelum mulai, jangan lupa satu hal penting: pahami dan lafalkan niat puasa qadha Ramadhan dengan benar. Ini yang bikin puasa qadha kita sah menurut hukum fikih.
BACA JUGA:Darurat Sampah! TPS Kecomberan Menggunung Lagi, Warga PCL Murka
Niat Puasa Qadha Ramadhan
Berikut ini adalah lafal niat qadha puasa Ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah swt.”
Menurut Mazhab Syafi’i.
Demikian diterangkan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’-nya sebagai berikut:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
BACA JUGA:OJK Cirebon Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Paninggaran Lewat Program PINTAR
Artinya: “Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah saw, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, [Darul Fikr, Beirut: 2007 M/1428 H], juz II).