Dari Warung Nasi Jamblang Menuju Panggung Global

Kamis 23-07-2026,09:42 WIB
Reporter : Norman Yudha Gunarsa (Asisten
Editor : Suwandi

*Oleh : Norman Yudha Gunarsa (Asisten Penyelia Perkasan – Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah KPw Bank Indonesia Cirebon)

Di sudut Kota Cirebon, seorang pedagang nasi jamblang menerima pembayaran hanya dalam hitungan detik melalui kode QR. Tidak ada uang tunai yang berpindah tangan, tidak ada kerepotan mencari uang kembalian, transaksi berlangsung sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan cerita besar tentang transformasi sistem pembayaran Indonesia.

Perubahan semacam itu terasa selama pelaksanaan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak berwisata kuliner, tetapi juga menjelajahi jejak transformasi digital yang kini hadir hingga ke warung-warung kecil, kawasan wisata, dan ruang-ruang publik yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Di berbagai sudut kota, peserta menemui pedagang empal gentong, nasi lengko, tahu gejrot, hingga penjual es serut yang perlahan beradaptasi dengan kebiasaan baru masyarakat. Sementara, di Situ Cipanten, Majalengka, edukasi dilakukan kepada pengunjung dan pelaku usaha wisata mengenai pentingnya transaksi digital yang aman sekaligus pelindungan konsumen dalam bertransaksi.

Apa yang terjadi sesungguhnya bukan sekadar perubahan cara membayar. Yang sedang berlangsung adalah perubahan cara masyarakat memandang teknologi. Selama bertahun-tahun, digitalisasi sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang dekat dengan gedung perkantoran, perusahaan rintisan, atau generasi muda di kota-kota besar. Padahal wajah digitalisasi yang paling nyata justru hadir di tempat-tempat sederhana seperti di warung makan, pasar tradisional, kios tempat wisata, dan usaha mikro lainnya.

Digitalisasi yang Membumi

Banyak inovasi teknologi gagal diterima masyarakat karena terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. QRIS justru mengambil jalur sebaliknya, teknologi ini hadir melalui aktivitas yang paling dekat dengan masyarakat seperti membeli makanan, membayar parkir, berbelanja di pasar, hingga membayar tiket wisata. Pendekatan tersebut terlihat dalam QJI 2026, peserta tidak hanya melakukan transaksi menggunakan QRIS, tetapi juga mengajak merchant yang belum menggunakan QRIS untuk mulai beradaptasi. Mereka mengunjungi kuliner legendaris seperti empal gentong, nasi jamblang, dan nasi lengko, sekaligus mengenalkan manfaat transaksi digital kepada pelaku usaha.

Pendekatan semacam ini penting karena transformasi digital tidak cukup dibangun melalui infrastruktur dan regulasi. Transformasi digital memerlukan kepercayaan masyarakat. Kepercayaan lahir ketika teknologi mampu menjawab kebutuhan nyata dan memberikan pengalaman yang mudah serta bermanfaat. Dalam konteks tersebut, QRIS telah berhasil membuktikan dirinya bukan sekadar produk teknologi, melainkan solusi yang membumi. Pedagang tidak perlu lagi menyediakan berbagai kode pembayaran berbeda. Konsumen cukup menggunakan satu aplikasi pembayaran. Kemudahan inilah yang membuat QRIS diterima dengan cepat oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kuliner sebagai Pintu Masuk Ekonomi Digital

Menariknya, Bank Indonesia memilih kuliner sebagai tema utama QRIS Jelajah Indonesia 2026. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan, kuliner merupakan sektor yang memiliki keterkaitan erat dengan usaha mikro, kecil dan menengah yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Ketika digitalisasi masuk ke sektor kuliner, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga pelaku usaha yang memperoleh akses lebih luas terhadap sistem keuangan formal.

Di Cirebon, peserta QJI mengunjungi berbagai merchant kuliner legendaris maupun kuliner yang lokasinya sedikit sulit tercapai atau biasa disebut hidden gem. Aktivitas tersebut bukan sekadar wisata kuliner, tetapi juga promosi ekonomi lokal. Ketika ulasan dan konten dipublikasikan melalui media sosial dengan total jangkauan ratusan ribu pengikut, kuliner daerah memperoleh panggung baru yang lebih luas.

Di era digital, transaksi dan promosi tidak lagi dapat dipisahkan. Setiap pembayaran digital yang dilakukan sekaligus membuka peluang peningkatan visibilitas usaha. Inilah salah satu nilai strategis QRIS yang sering kali luput dari perhatian publik.

Dari Cirebon ke Asia Tenggara

Kisah QRIS tidak berhenti di tingkat lokal. Di saat masyarakat Indonesia semakin akrab menggunakan QRIS, Bank Indonesia juga terus memperluas kerja sama pembayaran lintas batas atau cross-border payment dengan berbagai negara. Kerja sama QRIS antarnegara telah membuka peluang bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan pembayaran menggunakan aplikasi domestik saat bertransaksi di beberapa negara mitra. Sebaliknya, wisatawan dari negara mitra juga dapat melakukan pembayaran di Indonesia melalui sistem yang saling terhubung.

Langkah ini memiliki makna strategis yang besar. Selama bertahun-tahun, transaksi lintas negara identik dengan biaya yang relatif tinggi, proses yang tidak selalu praktis, dan ketergantungan terhadap jaringan pembayaran internasional tertentu. Interkoneksi pembayaran berbasis QR menghadirkan alternatif yang lebih cepat, efisien, dan inklusif.

Tags :
Kategori :

Terkait