Tembus Pasar Dunia, Kopi Java Buana Ciremai Bangkit dari Trauma Tanam Paksa

Jumat 11-09-2026,11:07 WIB
Reporter : Suwandi
Editor : Suwandi

"Kesadaran masyarakat lereng Gunung Ciremai perlahan mulai tumbuh. Bertani kopi bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan pilihan tepat bagi siapa saja yang ingin meraih kesejahteraan dan menjadi kaya di tanah sendiri," tambah Taufik.

Langkah Menjemput Harapan, Indikasi Geografis dan Lahirnya Java Buana Ciremai

Langkah besar pergerakan petani kopi lereng Ciremai berangkat dari sebuah keresahan bersama. Bertahun-tahun panen kopi dari Kuningan dan sekitarnya dibeli dengan harga murah oleh tengkulak atau pedagang dari luar daerah. Kopi-kopi tersebut kemudian dikemas ulang dan diakui sebagai merek daerah lain, sehingga identitas asli daerah kerap diabaikan.

"Ketika kopi kita masuk ke kota lain, branding-nya diganti jadi milik kota tersebut. Banyak orang luar kota yang bahkan tidak percaya kalau Kuningan itu punya kopi," tutur Taufik mengingat masa-masa pahit tersebut.

Dari keresahan inilah muncul kesadaran untuk membentuk wadah legal pendaftaran Indikasi Geografis, Java Buana Ciremai. Proses ini memakan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk mendatangkan tim peneliti serta pemulia tanaman dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember hingga pakar dari Gayo.

Demi mengulang kejayaan kopi Ciremai, Taufik bersama para petani kopi yang tergabung dalam MPIG Buana Ciremai, menempuh beragam upaya untuk memperkuat kemandirian. Seluruh proses bertani dari hulu ke hilir dikejarkan menggunakan sistem yang lebih efektif. Mulai dari pembenihan, perawatan kebun hingga pemasaran hasil penen.

Hasil manis mulai diteguk. Ekosistem kopi Java Buana Cirebon perlahan terbentuk. Yang lebih penting bagi Taufik, cita rasa, aroma dan segala keunikan lain yang melekat pada kopi lereng Ciremai kini terpatri dalam satu identitas yakni Java Buana Ciremai. Inilah peran penting dibentuknya MPIG Buana Ciremai.

Kolaborasi Ciptakan Ekonomi Sirkuler

Taufik mengungkapkan mayoritas sumber nutrisi vegetasi kopi di Buana Ciremai didapat dari bahan ramah lingkungan, yakni 80 persen pupuk organik dan 20 persen sisanya pupuk kimia.

"Penggunaan pupuk organik 80 persen ini merupakan bagian dari gerakan back to nature. Tujuannya agar ekosistem unsur hara tanah kembali lestari dan tanaman kopi memiliki daya tahan yang lebih kuat, terutama terhadap perubahan cuaca dan iklim ekstrem," ujar Taufik.

Pupuk organik didapat melalui kolaborasi petani kopi dan peternak dari berbagai desa di Kuningan khususnya peternak domba. Feses domba yang diperoleh tidak langsung diolah oleh petani kopi, melainkan sudah melewati proses fermentasi sejak dari tangan peternak.

Guna menjaga mutu, MPIG Buana Ciremai memberikan pendampingan para peternak agar mampu mengolah kotoran ternak menjadi pupuk siap pakai. Setelah difermentasi, pupuk dibeli oleh para petani kopi dengan harga rata-rata Rp3.000 per kilogram.

Kerja sama ini menciptakan hubungan saling menguntungkan. Bagi peternak, limbah kotoran hewan tidak lagi menjadi masalah lingkungan, melainkan memberikan manfaat finansial. "Sementara bagi kami di perkebunan kopi, ketersediaan pupuk organik berkualitas sangat mendukung kebutuhan nutrisi tanaman," imbuhnya.

Sisa kebutuhan nutrisi sebesar 20 persen diisi oleh pemanfaatan pupuk kimia jenis NPK (Nitrogen, Phosfat, Kalium). Penggunaannya disesuaikan secara berdasarkan siklus dan kebutuhan fase pertumbuhan tanaman kopi.

Taufik menambahkan, pada fase awal pertumbuhan (vegetatif) digunakan formula NPK seimbang 16-16-16. Sedangkan pada fase berbunga (generatif awal), komposisi NPK menjadi 9-20-25. Kemudian fase berbuah (generatif murni) digunakan formula NPK dengan perbandingan 9-25-25.

Melalui perpaduan nutrisi yang terukur dan sinergi berkelanjutan bersama peternak lokal, MPIG Buana Ciremai optimistis dapat menjaga daya tahan tanaman sekaligus mempertahankan kualitas hasil panen kopi secara berkelanjutan.

Kategori :