Inilah yang dalam ekonomi dikenal sebagai downtrading konsumsi—pergeseran pilihan konsumsi dari barang atau jasa dengan kualitas, kuantitas, atau harga yang lebih tinggi menuju alternatif yang lebih murah. Fenomena ini penting karena angka konsumsi agregat belum tentu mampu menangkap perubahan kualitas di balik transaksi.
Secara statistik, masyarakat mungkin masih mengonsumsi dalam jumlah yang relatif sama. Secara statistik, masyarakat masih mengonsumsi akan tetapi di balik aktivitas tersebut dapat terjadi perubahan komposisi konsumsi: barang premium bergeser ke barang yang lebih murah, kemasan besar berganti kemasan kecil, konsumsi di luar rumah berkurang, atau pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan ditunda. Dengan kata lain, yang berubah bukan hanya berapa banyak masyarakat mengonsumsi, tetapi juga kualitas konsumsi tersebut. Dan ketika downsizing mulai menyentuh kebutuhan primer, persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Data kemiskinan BPS memberikan perspektif penting. Pada triwulan I 2026, persentase penduduk miskin Indonesia memang turun menjadi 8,07 persen. Hal ini dinilai positif dan menunjukkan bahwa secara agregat kondisi kemiskinan mengalami perbaikan. Namun, di balik angka tersebut terdapat realitas mengenai sempitnya ruang konsumsi bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Pada periode yang sama, garis kemiskinan nasional tercatat Rp669.235 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, 74,70 persen berasal dari kebutuhan makanan, sementara 25,30 persen berasal dari kebutuhan bukan makanan. Angka tersebut menunjukkan bahwa bagi kelompok berpendapatan rendah, makanan bukan sekadar salah satu komponen konsumsi. Makanan merupakan bagian terbesar dari pengeluaran yang digunakan untuk memenuhi batas minimum kebutuhan hidup.
Angka ini memberi pesan yang sangat penting: bagi kelompok miskin, makanan mengambil porsi besar dari batas minimum untuk mempertahankan kehidupan. Dengan demikian, ruang untuk melakukan efisiensi menjadi sangat terbatas. Rumah tangga kelas menengah mungkin dapat merespons tekanan ekonomi dengan mengurangi liburan atau mengganti kendaraan. Rumah tangga berpendapatan rendah tidak memiliki ruang selebar itu.
Ketika pendapatan berkurang atau harga kebutuhan pokok meningkat, pilihan yang tersedia jauh lebih sedikit.
Kemiskinan tidak selalu berbentuk kondisi statis seperti tidak memiliki sejumlah uang. Kemiskinan dapat menjadi sebuah siklus. Pendapatan yang rendah mendorong rumah tangga mengurangi konsumsi. Ketika pengurangan tersebut menyentuh makanan bergizi, kesehatan, pendidikan, atau modal usaha, kualitas sumber daya manusia dan kapasitas produktif rumah tangga dapat ikut menurun. Produktivitas yang rendah kemudian membatasi kemampuan memperoleh pendapatan yang lebih baik. Yang awalnya merupakan strategi bertahan hidup dapat berubah menjadi jebakan.
Misalnya, sebuah keluarga menghadapi penurunan pendapatan. Mereka kemudian mengurangi konsumsi protein untuk menghemat pengeluaran. Anak memperoleh asupan gizi yang lebih rendah. Pada saat yang sama, biaya sekolah tambahan dihentikan dan pengeluaran kesehatan ditunda. Orang tua juga menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam jangka pendek, keputusan tersebut rasional. Keluarga berhasil bertahan. Namun, dalam jangka panjang, keputusan yang sama dapat mengurangi kemampuan keluarga untuk memperbaiki kondisi ekonominya.
Karena itu, kemiskinan tidak cukup dilihat dari apakah seseorang berada sedikit di bawah atau sedikit di atas garis kemiskinan. Ada kelompok masyarakat yang secara statistik berada di atas garis kemiskinan, tetapi memiliki bantalan ekonomi yang sangat tipis. Satu kali kehilangan pekerjaan, kenaikan harga pangan, sakit, atau kebutuhan mendadak dapat menghapus tabungan dan mendorong mereka kembali ke kondisi rentan. Maka, ketika membaca ekonomi yang tumbuh sekitar 5 persen, kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih dalam.
Apa yang terjadi pada keranjang belanja masyarakat? Apakah peningkatan transaksi mencerminkan kesejahteraan yang membaik, atau justru strategi masyarakat untuk mempertahankan konsumsi minimum di tengah ruang fiskal rumah tangga yang semakin sempit?
Pertanyaan tersebut penting karena kualitas pertumbuhan ekonomi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bertambah, tetapi juga oleh kemampuan rumah tangga mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Bagi daerah seperti Ciayumajakuning, agenda ini menjadi semakin penting. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang produktif, pendapatan yang lebih stabil, dan rantai nilai yang memberikan nilai tambah lebih besar kepada masyarakat lokal. Pertumbuhan tidak cukup hanya menghasilkan aktivitas ekonomi; ia perlu menciptakan kemampuan masyarakat untuk naik kelas.
Karena itu, kebijakan menjaga daya beli seharusnya tidak berhenti pada menjaga inflasi tetap rendah.
Stabilitas harga pangan tetap penting, tetapi harus berjalan bersama dengan penciptaan pekerjaan produktif, penguatan usaha mikro dan kecil, peningkatan produktivitas tenaga kerja, akses pembiayaan, perlindungan sosial yang adaptif, serta penguatan ketahanan pangan rumah tangga.
Sebab, ketika sebuah keluarga mulai mengurangi rekreasi, itu mungkin sekadar pilihan konsumsi. Ketika mereka mengurangi pembelian pakaian, mungkin masih merupakan strategi berhemat.
Tetapi ketika mereka mulai mengurangi makanan bergizi, menunda pengobatan, menghentikan pendidikan, menghabiskan tabungan, atau menjual aset produktif untuk memenuhi kebutuhan harian, kita tidak lagi sedang berbicara semata tentang perubahan perilaku konsumsi. Kita sedang berbicara tentang risiko kehilangan kemampuan untuk keluar dari kemiskinan.
Pada akhirnya, tantangan ekonomi hari ini bukan hanya memastikan masyarakat tetap membeli. Tantangannya adalah memastikan bahwa ketika masyarakat melakukan penghematan, yang dikurangi adalah konsumsi yang kurang penting, bukan kualitas hidup, nutrisi, kesehatan, pendidikan, dan kemampuan mereka untuk membangun masa depan. Sebab pertumbuhan ekonomi yang benar-benar inklusif bukan hanya tentang ekonomi yang bertambah besar, namun tentang semakin banyak rumah tangga yang memiliki ruang untuk hidup, menabung, berinvestasi, dan bergerak naik menuju kesejahteraan yang lebih baik. (*)