Kadisdik Tanggapi Kekurangan RKB SDN 1 Cirebon Girang: Anggaran Kita Terbatas

Kadisdik Tanggapi Kekurangan RKB SDN 1 Cirebon Girang: Anggaran Kita Terbatas

BELAJAR DI MUSHOLA. SDN 1 Cirebon Girang kekurangan Ruang Kelas Baru (RKB), siswanya terpaksa belajar di mushola. FOTO : ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIREBON--

CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.IDSDN 1 Cirebon Girang, Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon kekurangan ruang kelas. Siswanya terpaksa belajar di mushola dengan kondisi seadanya. Tanpa kursi dan meja, harus duduk lesehan.

Menanggapi kondisi ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon menyatakan bahwa keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam pemenuhan kebutuhan ruang kelas baru (RKB).

BACA JUGA:Disdik : Pelaku Dugaan Pelecehan Anak Akan Dipindahtugaskan

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon, H Ronianto SPd MM, menyebut bahwa permasalahan kekurangan ruang kelas tidak hanya terjadi di satu titik.

“Kebutuhan ruang kelas itu banyak, bukan hanya di SDN 1 Cirebon Girang. Banyak sekolah yang menggunakan perpustakaan atau mushola untuk proses belajar. Itu terjadi di berbagai tempat,” ujar Ronianto.

Terkait sistem pembelajaran yang digilir, di mana kelas 1 belajar pagi dan kelas 2 siang, Ronianto menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan hal lumrah di beberapa SD. Mengingat keterbatasan ruang yang ada.

“Kelas 1 itu kan selesai jam 10, jam 10 sampai jam 1-nya digunakan untuk kelas 2. Itu biasa di sekolah dasar,” tambahnya.

Namun, ketika ditanya soal kondisi siswa yang belajar tanpa meja dan kursi di mushola, Ronianto mengaku baru menerima informasi tersebut dari media dan akan segera melakukan pengecekan ke lapangan.

“Coba nanti kita lihat dulu kasusnya, karena saya baru menerima laporan ini dari media. Saya belum lihat langsung ke lokasi,” jelasnya.

Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, lanjut Ronianto, tetap menerapkan skala prioritas dalam pengalokasian pembangunan RKB. Ada beberapa indikator yang menjadi pertimbangan, seperti jumlah siswa, tingkat kekurangan ruang kelas.

Selain itu, ketersediaan lahan, serta kelayakan bangunan yang akan dikembangkan pun menjadi pertimbangan Disdik memberikan RKB.

“Yang besar kekurangannya, jumlah muridnya banyak, dan lahannya tersedia, itu bisa kita prioritaskan. Banyak sekolah yang lahannya tidak ada, kalau seperti itu harus membangun ke atas (dua lantai), dan itu ada perhitungan-perhitungannya,” terang Ronianto.

Mengenai keluhan sekolah yang sudah berkali-kali mengajukan permohonan RKB namun belum direspon, Ronianto menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menjadi faktor penghambat.

BACA JUGA:Kekurangan Ruang Belajar, Siswa SDN 1 Cirebon Girang Terpaksa Belajar di Mushola

“Anggarannya kita terbatas. Kita tidak bisa penuhi semua permintaan sekolah. Harus ada penyesuaian dengan kemampuan anggaran yang tersedia,” ungkapnya.

Ronianto menegaskan bahwa pihaknya tetap akan memperjuangkan kebutuhan ruang kelas, namun tetap dengan mempertimbangkan kondisi anggaran daerah serta skala prioritas. (zen)

Sumber: