Pantas Banjir, Hutan Jawa Barat Tinggal 17 Persen, Rohmin: Itu Akar Masalahnya !

Pantas Banjir, Hutan Jawa Barat Tinggal 17 Persen, Rohmin: Itu Akar Masalahnya !

TEGASKAN. Anggota DPR RI, Prof Rohmin Dahuri menegaskan berkurangnya hutan di Jabar penyebab banjir. FOTO : ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIREBON--

CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Hutan di Jawa Barat tersisa sekitar 17 persen. Dinilai menjadi penyebab utama banjir yang terus berulang, termasuk di Kabupaten Cirebon.

Kondisi tersebut jauh dari ambang batas ideal ekologis yang seharusnya mencapai minimal 30 persen.

Hal itu, disampaikan Anggota DPR RI, Prof Dr Ir Rohmin Dahuri, usai meninjau banjir di Sumber Kabupaten Cirebon, Rabu 24 Desember 2025.

BACA JUGA:Banjir di Sumber Disebut Kiriman dari Wilayah Hulu

Dia menegaskan kerusakan lingkungan, khususnya akibat deforestasi, tidak bisa dipisahkan dari meningkatnya frekuensi dan dampak banjir.

Menurutnya, berkurangnya hutan menyebabkan daya serap air menurun drastis sehingga air hujan langsung mengalir ke permukiman dan sungai.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Kalau kita serius dan tulus, dari pemerintah pusat hingga daerah, harus memikirkan bagaimana mengembalikan tutupan hutan minimal 30 persen,” ujar Rohmin.

BACA JUGA:Ruas Jalan Penghubung Kota–Kabupaten Cirebon Terendam Banjir

Ia menekankan bahwa upaya rehabilitasi hutan tidak semata-mata menjadi beban anggaran negara. Sebaliknya, program penanaman kembali hutan justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui kegiatan pembibitan, penanaman, dan perawatan hutan.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ekonomi. Akan ada efek berganda, membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Selain persoalan deforestasi, Rohmin juga menyoroti lemahnya manajemen daerah. Terutama dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan sistem drainase. Banyak sungai yang mengalami pendangkalan serta saluran air yang tersumbat akibat minimnya perawatan.

Ia juga menilai rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan turut memperparah risiko banjir. Pengelolaan sampah yang buruk, terutama kebiasaan membuang sampah ke sungai, masih menjadi masalah yang terus berulang.

BACA JUGA:BK DPRD Kabupaten Cirebon Siapkan BK Award untuk Tingkatkan Integritas Anggota Dewan

“Etos kerja dan kepedulian terhadap lingkungan harus dibenahi. Kalau sungai terus dijadikan tempat sampah, banjir akan terus terjadi,” tegasnya.

Rohmin berharap penanganan banjir tidak lagi bersifat reaktif dan parsial. Ia mendorong adanya komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperbaiki tata kelola lingkungan secara menyeluruh dan berkelanjutan. (zen)

Sumber: