Geger Kebun Sawit di Perbukitan Cigobang, Warga Resah Terancam Krisis Air dan Longsor
TUNJUKAN. Warga menunjukan pohon sawit yang sudah mulai tumbuh di perbukitan Cigobang. FOTO : IST/RAKYAT CIREBON--
CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Aktivitas penanaman kelapa sawit di kawasan perbukitan Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, menuai sorotan. Warga resah. Kawasan itu selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air.
Warga setempat, Sara (55), mengaku terkejut saat melihat deretan pohon kelapa sawit berdiri rapi di sepanjang jalan setapak perbukitan.
“Dulu di sini pohon-pohon besar dan rimbun. Sekarang tinggal sawit,” ujarnya lirih.
Menurutnya, kebun sawit yang masuk ke kawasan tersebut diperkirakan telah mencapai luas sekitar empat hektare.
BACA JUGA:Cara Menjaga Gadget Tetap Menyala Saat Pemadaman Listrik Total (Blackout)
Tanaman sawit ditanam di lereng perbukitan dengan jarak sekitar enam meter antar pohon. Padahal, area itu sebelumnya merupakan kawasan hutan yang berfungsi sebagai penyangga mata air bagi masyarakat.
Kekhawatiran warga semakin besar. Maklum, Desa Cigobang dikenal sebagai wilayah rawan krisis air, terutama saat musim kemarau. Selama ini, mata air yang mengalir dari kawasan hutan perbukitan menjadi sumber utama kebutuhan air warga.
“Air itu nyawa kami. Kalau hutannya habis, sama saja kami pelan-pelan kehilangan hidup. Bukan cuma kami, tapi anak cucu nanti,” kata Sara.
Keresahan tersebut turut disuarakan pegiat lingkungan dari Sawala Buana, Hipal Surdiniawan. Ia menegaskan, hutan Cigobang memiliki peran penting sebagai benteng terakhir penyangga mata air bagi warga desa.
“Hutan Cigobang itu benteng terakhir warga. Kalau diganti sawit, fungsi alaminya akan hilang. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal keberlangsungan hidup masyarakat,” tegasnya.
Selain ancaman kekeringan, warga juga mengkhawatirkan potensi bencana longsor. Penanaman sawit di lereng perbukitan dinilai berisiko karena sistem perakaran sawit yang relatif dangkal.
Saat hujan deras, kondisi tanah dikhawatirkan menjadi lebih labil dan membahayakan permukiman warga yang berada di bawah bukit.
“Kalau hujan besar turun, kami yang tinggal di bawah bukit selalu waswas,” katanya.
BACA JUGA:Mengoyak Adab dan Konstitusi NU : Islah Lirboyo Ambyar !
Masuknya perkebunan sawit di kawasan tersebut membuat warga menilai persoalan ini bukan lagi urusan individu atau kelompok tertentu.
Menyangkut masa depan desa, keselamatan lingkungan, dan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
“Kalau nanti anak cucu kami kesulitan air atau terkena longsor, siapa yang akan bertanggung jawab?” tuturnya.
Warga Desa Cigobang berharap kawasan hutan di perbukitan tersebut tetap dijaga dan dilindungi, agar fungsi resapan air tetap terpelihara serta desa mereka aman dari ancaman kekeringan dan bencana alam di masa depan. (zen)
Sumber: