RPJMD Disesuaikan, Visi Sehati Azis-Eti Jadi Terhambat
RAKYATCIREBON.ID – Pasangan Azis-Eti menang di Pilkada Kota Cirebon 2018. Pasangan tersebut mengusung visi misi Sehati (Sehat, Hijau, Agamis, Tentram dan Inovatif) untuk mewujudkan Kota Cirebon sebagai kota kreatif berbasis Budaya dan Sejarah.
Di awal kepemimpinannya, visi misi Azis-Eti dibreakdown, dan sudah ditransliterasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Cirebon 2018-2023, melalui Peraturan Daerah Kota Cirebon nomor 05 tahun 2019.
Namun sangat disayangkan, baru dua tahun berjalan, dan bekerja untuk mencapai target-target yang sudah ditetapkan dalam RPJMD tersebut, kondisi luar biasa menyebabkan RPJMD yang menjadi landasan kerja Azis-Eti harus disesuaikan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kota Cirebon, Iing Daiman mengungkapkan, penyesuaian RPJMD terpaksa harus dilakukan, sehingga ada beberapa target yang mengalami perubahan.
“Perjalanan pak Wali serta Bu Wakil di tiga tahun ini, 2018 sampai 2021 berjalan, secara umum ada beberapa yang tercapai, terutama di indikator makro. Hanya di akhir tahun 2020, ada capaian yang turun tidak sesuai target. Tapi ini bukan hanya terjadi di Kota Cirebon, tapi semua daerah di Indonesia,” ungkap Iing kepada Rakyat Cirebon.
“Contoh, persentase penduduk miskin, naik 9,52 persen, dari target 8 koma sekian persen, pengangguran terbuka, naik menjadi 10,97 persen, dari 9 koma sekian persen, termasuk laju pertumbuhan ekonomi, itu turun 0,99 persen. Tapi ini terjadi di seluruh Indonesia. Jadi kalau pun di Kota Cirebon ada kenaikan penduduk miskin, masih tergolong rendah dibanding beberapa daerah lainnya,” tutur Iing.
Substansi perubahan RPJMD, kata Iing, terjadi di lima poin, yakni penyesuaian kembali visi misi, penyesuaian tujuan dan sasaran, penyesuaian indikator capaian, penyesuaian prioritas pembangunan serta penyesuaian program.
Di dalamnya, ada beberapa target indikator makro yang targetnya disesuaikan. Seperti pertumbuhan ekonomi yang saat ini Kota Cirebon minus 0,99, secara nasional targetnya di 2021 bisa mencapai 7 persen.
Oleh karena itu, Kota Cirebon juga ikut menyesuaikan, untuk koreksi terhadap indikator yang tidak sesuai harapan. Perubahan yang paling signifikan, pada perubahan RPJMD ini, recovery pasca Pandemi Covid-19 masuk dalam RPJMD Kota Cirebon tahun 2018-2023.
“Program strategis pak Wali dan bu Wakil ini banyak yang ditunda di era 2020-2021. Seperti untuk pariwisata, monumen pedati gede, koridor Karsil, terpaksa dipending karena kita prioritas dulu untuk menangani Covid. Di 2022, proyek strategis sudah kami ploting, sudah kita alokasikan,” kata Iing.
Diakui Iing, di tiga tahun perjalanan kepemimpinan Azis-Eti, dari sisi perencanaan, yang masih banyak tertunda karena Covid ada di sektor infrastruktur dengan sektor pariwisata. Oleh karena itu, hasil penyesuaian RPJMD, menitikberatkan di dua tahun terakhir untuk mengejar ketertinggalan.
“Paling berat di sektor infrastruktur sama pariwisata, itu sangat terhambat sekali. Banyak yang harusnya dicapai di 2021, melenceng. Sehingga kita sesuaikan RPJMD-nya. Kita kejar di 2022, menjelang akhir masa jabatan harus akselerasi,\" tandasnya.
Pertama, menyesuaikan untuk recovery Covid, itu isu strategis penyebab utama perubahan RPJMD. Kedua, ada perubahan target, seperti target pertumbuhan ekonomi, normal 5-7, tapi kita tidak bisa, harus realistis, diturunin disesuaikan.
Tetapi di balik itu, ada beberapa prestasi yang diraih, baik di tingkat provinsi maupun nasional, seperti WTP dan beberapa yang lain, patut disyukuri. (sep)
Sumber: