Smart Shoes untuk Disabilitas dengan Fitur Auto-Lacing dan Navigasi Haptic
Smart Shoes untuk Disabilitas dengan Fitur Auto-Lacing dan Navigasi Haptic. Foto ilustrasi: Pinterest/ Rakyatcirebon.disway.id--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Pernah tidak Anda membayangkan betapa sulitnya hal-hal kecil bagi sebagian orang? Kita sering kali menganggap aktivitas seperti mengikat tali sepatu atau berjalan ke toko depan rumah sebagai sesuatu yang otomatis. Tapi bagi teman-teman disabilitas, "hal kecil" ini bisa jadi tembok besar yang menghalangi kemandirian mereka. Untungnya, di tahun 2025 ini, teknologi mulai berhenti sekadar pamer kemewahan dan mulai fokus pada masalah kemanusiaan yang nyata.
Kalau dulu kita cuma melihat sepatu pintar dipakai oleh pelari maraton untuk menghitung langkah, sekarang ceritanya sudah beda. Inovasi seperti auto-lacing dan navigasi haptic hadir bukan buat gaya-gayaan, tapi sebagai solusi untuk meruntuhkan batasan fisik. Sepatu pintar kini bertransformasi menjadi alat bantu mobilitas yang lebih dari sekadar pelindung kaki, dia adalah asisten pribadi yang menempel langsung di tubuh penggunanya.
Kebebasan Tanpa Tali: Keajaiban Auto-Lacing
Bagi banyak dari kita, mengikat tali sepatu itu masalah sepele yang selesai dalam lima detik. Tapi coba bayangkan kalau Anda adalah penderita artritis parah, atau penyandang disabilitas yang hanya bisa menggunakan satu tangan. Mengikat tali sepatu bisa jadi momen yang sangat bikin frustrasi. Nah, di sinilah teknologi auto-lacing atau pengikat otomatis tampil jadi penyelamat.
Sistem ini sebenarnya bekerja cukup sederhana tapi jenius. Begitu kaki masuk ke dalam sepatu, ada sensor tekanan yang bakal mendeteksi keberadaan kaki dan secara otomatis mengencangkan talinya sesuai kenyamanan pengguna. Yang keren di versi terbaru tahun 2025, kita bahkan bisa mengatur kekencangannya lewat perintah suara.
Jadi, tidak perlu lagi membungkuk atau minta bantuan orang lain setiap mau keluar rumah. Ini bukan cuma soal kenyamanan, tapi soal mengembalikan rasa percaya diri bahwa mereka bisa melakukan hal-hal dasar secara mandiri.
Navigasi Haptic: Menunjuk Jalan Lewat Getaran
Lalu ada fitur yang menurut saya pribadi paling luar biasa: navigasi haptic. Bagi teman-teman tunanetra, berjalan di trotoar yang ramai itu tantangannya bukan main. Mengandalkan suara GPS dari HP di tengah kebisingan kota itu sangat berisiko, karena suara kendaraan di sekitar jadi tidak terdengar jelas dan fokus pendengaran terbagi.
Sepatu pintar dengan sensor haptic memberikan solusi yang jauh lebih aman. Sepatu ini bakal "ngobrol" dengan penggunanya lewat getaran di telapak kaki. Kalau kaki kanan bergetar, berarti waktunya belok kanan. Kalau getarannya mendengung panjang, mungkin ada rintangan di depan. Karena petunjuknya berupa getaran fisik, indra pendengaran pengguna tetap bebas untuk waspada dengan situasi jalanan. Rasanya seperti punya penunjuk jalan yang bisu tapi sangat akurat dan intim.
Sensor Pendeteksi Jatuh: Penjaga Keamanan Real-Time
Keamanan adalah isu nomor satu, apalagi buat para lansia atau teman disabilitas yang punya masalah keseimbangan. Banyak dari smart shoes sekarang yang ditanami sensor gyroscope dan akselerometer tingkat tinggi. Fungsinya? Untuk mendeteksi kalau si pemakai terjatuh secara tiba-tiba atau mengalami guncangan drastis.
Jika sepatu mendeteksi adanya benturan atau perubahan posisi yang tidak wajar, dia akan menunggu respons selama beberapa detik. Kalau tidak ada pergerakan dari si pemakai, sepatu ini bakal langsung mengirimkan pesan darurat beserta lokasi GPS ke nomor keluarga atau pusat medis melalui aplikasi yang terhubung. Fitur ini benar-benar memberikan ketenangan pikiran, bukan cuma buat yang pakai, tapi juga buat keluarga yang tidak bisa menemani setiap saat di samping mereka.
Tantangan Harga dan Aksesibilitas di Masa Depan
Namun, jujur saja, kita masih punya PR besar soal harga. Teknologi secanggih ini memang belum bisa dibilang murah. Harganya yang masih tinggi membuat sepatu pintar ini belum bisa dinikmati oleh semua kalangan yang sebenarnya sangat membutuhkan. Harapan saya, ke depannya brand-brand besar bisa bekerja sama dengan asuransi kesehatan atau pemerintah agar harganya bisa lebih bersahabat dan terjangkau.
Baterai juga sering jadi pertanyaan besar. Tapi untungnya, teknologi pengisian daya nirkabel di tahun 2025 sudah sangat cepat dan praktis. Cukup taruh sepatu di atas matras pengisi daya saat malam hari, dan besok paginya sudah siap dipakai beraktivitas lagi selama seminggu penuh. Tidak perlu lagi repot mencolok kabel ke lubang kecil yang mungkin sulit dilakukan oleh mereka dengan keterbatasan motorik.
Teknologi yang Memanusiakan Manusia
Pada akhirnya, kemajuan teknologi harus punya satu tujuan utama: membuat hidup manusia jadi lebih mudah dan bermartabat. Smart shoes untuk disabilitas adalah bukti nyata kalau inovasi itu punya hati. Ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai di garis finish atau siapa yang paling modis, tapi soal memastikan tidak ada satu orang pun yang tertinggal di belakang karena keterbatasan fisik yang mereka miliki.(*)
Sumber: