SPPG di Kota Cirebon Bermasalah, Sayur Kacang Panjang Ditemukan Basi dan Berulat

SPPG di Kota Cirebon Bermasalah, Sayur Kacang Panjang Ditemukan Basi dan Berulat

CEK MAKANAN. Kepala Puskesmas Sitopeng, dr Eko Dewantoro, staf Dinkes, turun langsung mengecek makanan MBG yang diduga basi dan berulat di SDN Argapura, Senin (3/11).-ISTIMEWA/RAKYATCIREBON.DISWAY.ID-

CIREBON, RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Salah satu sekolah di Kecamatan Harjamukti mendadak riuh. Penyebabnya, salah satu wali murid kelas 1, Mila melaporkan adanya temuan makanan program SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang diduga sudah basi dan tidak layak konsumsi sebelum sempat dibagikan kepada siswa.

Menurut penuturan Mila, dirinya bersama pihak sekolah terlebih dahulu memeriksa kondisi makanan sebelum dibagikan kepada anak-anak. Dari hasil pemeriksaan tersebut, diketahui bahwa sayuran dalam menu tersebut telah berbau menyengat dan menunjukkan tanda-tanda basi.

“Sebelum dibagikan ke anak-anak, kita sudah ngecek dulu. Begitu dibuka, baunya menyengat banget, seperti minyak basi,” tuturnya saat ditemui di sekolah, Senin (3/11).

Ia menambahkan, menu makanan hari itu terdiri dari sayur kacang panjang, telur, dan tahu bacem. Dari pemeriksaan yang dilakukan, hanya sayurannya yang terindikasi basi, sementara lauk lainnya masih dalam kondisi normal.

“Saya langsung sampaikan ke anak-anak supaya jangan dimakan dulu sayurannya. Waktu dicek satu-satu, ternyata memang semua sayurnya basi,” tambahnya.

Tak hanya basi, Mila juga menyebutkan ditemukan adanya ulat kecil di dalam sayur kacang panjang pada salah satu porsi makanan.

“Ada ulatnya, kemungkinan dari kacangnya. Tapi baru ditemukan di satu porsi, dan syukurlah belum sempat dimakan sama anak-anak,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Sitopeng, dr Eko Dewantoro, membenarkan bahwa dari hasil pemeriksaan sementara, makanan tersebut memang mengeluarkan bau menyengat khas makanan yang sudah basi.

“Kalau dari hasil pengamatan, sayurannya memang sudah basi. Kami akan melakukan investigasi lebih lanjut dan berkoordinasi dengan tim gizi kami,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa konsumsi makanan basi sangat berisiko bagi anak-anak, terutama dapat menyebabkan diare, mual, hingga muntah-muntah.

“Kalau makanan basi dikonsumsi, bisa menimbulkan gangguan pencernaan seperti diare atau muntah. Jadi memang berbahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr Eko menyampaikan, SPPG yang dibagikan di sekolah tersebut bukan berasal dari wilayah kerja Puskesmas Sitopeng, melainkan dari wilayah lain. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan puskesmas wilayah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan SPPG untuk memastikan penanganan dan evaluasi dilakukan secara menyeluruh.

"Selanjutnya nanti kita akan investigasi koordinasi dengan tim gizi kami. Kebetulan ini SPPG-nya bukan dari wilayah Argasunya, maka kita akan koordinasi dengan wilayah yang punya SPPG," lanjutnya.

Pihak sekolah sendiri mengaku telah mengamankan seluruh makanan yang terindikasi basi dan memastikan tidak ada satu pun siswa yang sempat mengonsumsinya.

Sumber:

Berita Terkait