Minggu Depan BBWS Ukur Sedimentasi Sungai Sukalila, Normalisasi Januari

Minggu Depan BBWS Ukur Sedimentasi Sungai Sukalila, Normalisasi Januari

Ketua DPRD bersama Komisi I rapat dengan BBWS membahas rencana pengerukan Sungai Sukalila, Senin (06/10). FOTO: ASEP SAEPUL MIELAH/ RAKYAT CIREBON--

CIREBON - Normalisasi sungai Sukalila diminta untuk lebih diseriusi. 

Senin (06/10) kemarin, Ketua DPRD bersama Komisi I rapat bersama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWSCC). 

Beberapa perangkat daerah terkait, seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga ikut dalam rapat tersebut. 

BACA JUGA:Wakil Walikota Kerja Bakti Bareng Warga Kesenden

Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro mengungkapkan, pihaknya sudah mengagendakan bahwa normalisasi dan pengerukan Sungai Sekalila akan berjalan di awal tahun 2026.

"Awal Januari kita agendakan normalisasi, adapun jika ada kendala faktor sosial, kita minta bantuan Pemkot untuk menyelesaikan," ungkap Agus. 

Untuk langkah awal, dalam waktu dekat, lanjut Agus, BBWS akan menerjunkan tim untuk melakukan pengukuran sedimentasi yang rencananya akan diangkat. 

BACA JUGA:Detail Spesifikasi Huawei Pura 80 Ultra: Bawa Teknologi 'Dua Lensa Periskop' Pertama di Industri

"Tadi disepakati, Minggu depan, Rabu tanggal 15 Oktober kita akan ukur sedimen yang akan diangkat, karena itu berkaitan dengan dokumen lingkungan, kita ingin melihat volume sedimen yang akan diambil," lanjut Agus. 

Dijelaskan Agus, pada rencana pengerukan ini, BBWS membagi target menjadi tiga ruas, ruas pertama mulai dari jembatan hulu di jalan KS Tubun, ke jalan Siliwangi, ruas kedua dari jalan Siliwangi ke jalan Sisingamangaraja, dan ruas ketiga dari jalan Sisingamangaraja ke muara Sukalila. 

Untuk rencana pengerukan sendiri, sungai Sukalila ini akan menerapkan treatmen yang berbeda dengan sungai lain, karena berada ditengan lingkungan perkotaan. 

BACA JUGA:Viral Meteor Jatuh di Cirebon: Ini Pernyataan Resmi BMKG dan BRIN

"Nanti teknis akan beda dengan daerah lain, biasanya disimpan di pinggir dibuat tanggul. Ini tidak mungkin, harus dibuang ke satu tempat. Treatment nya akan beda, sedimen masuk karung dulu sampai airnya habis, baru dibuang," jelas Agus. 

Untuk lokasi pembuangan sedimentasi sendiri, pada saat pengukuran nanti, Agus juga sudah meminta timnya untuk berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sehingga pada saat pengukuran, akan sekalian dilakukan uji lab daei kandungan sedimentasi. 

Sumber: