Menjaga Stabilitas Harga saat Ramadan

Menjaga Stabilitas Harga saat Ramadan

GERAKAN PASAR MURAH. Salah satu upaya stabilisasi harga saat ramadan ialah dengan gelaran Gerakan Pasar Murah. --

*Oleh: Alvita Rachma Devi (Analis Yunior di Bank Indonesia Cirebon)

SETIAP bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri, selain menyambut tradisi makan ketupat dan silaturahmi keluarga besar, masyarakat Indonesia juga menyambut ‘tradisi’ lain, yaitu harga kebutuhan pokok yang perlahan merangkak naik. Fenomena ini merupakan siklus musiman yang hampir selalu terjadi di bulan Ramadan dan Idulfitri, sehingga kerap dipandang sebagai wajar.

Data inflasi terbaru menunjukkan dinamika tersebut mulai terasa bahkan sebelum puncak perayaan tiba. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Februari 2026 di wilayah Jawa Barat sebesar 4,71% (yoy), sementara inflasi kota Cirebon sendiri tercatat sebesar 4,83% (yoy). Kenaikan harga komoditas pangan strategis seperti beras, daging ayam ras, dan bawang merah menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di kota Cirebon.

Meskipun Cirebon mencatatkan inflasi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa Barat, daya beli masyarakat kota Cirebon terpantau masih baik. Hal ini tecermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia yang mencatat Indeks Keyakinan Konsumen masyarakat kota Cirebon pada bulan Februari 2026 berada di level optimis.

Naiknya harga komoditas pangan strategis di bulan Ramadan tidak hanya dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan. Namun, ekspektasi konsumen juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi kenaikan harga bahan pokok. Tradisi mudik dan perayaan hari raya bersama keluarga mendorong peningkatan konsumsi tidak hanya pangan, tetapi juga sandang, transportasi, dan kebutuhan sosial lainnya. 

Peningkatan konsumsi selama Ramadan ini tentunya menjadi penggerak aktivitas sektor riil, yang pada akhirnya menciptakan perputaran ekonomi yang lebih kuat. Namun, masyarakat perlu mengimbangi juga dengan perilaku belanja yang rasional. Sisi permintaan perlu dijaga pada level wajar untuk menghindari keterbatasan pasokan pangan, karena jika masyarakat berbondong-bondong melakukan pembelian barang secara besar-besaran, pasar akan membaca sinyal kelangkaan dan diterjemahkan dengan naiknya harga.

Jika dibiarkan, hal ini tentunya dapat memicu inflasi. Hal ini sejalan dengan studi empiris yang dilakukan Bank Indonesia, dimana ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga erat kaitannya dengan tingkat inflasi. Oleh karena itu, penting untuk menjaga persepsi masyarakat akan kestabilan pasokan pangan yang diiringi upaya belanja bijak agar tidak timbul panic buying.

Belanja Bijak untuk Inflasi yang Terkendali

Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan selama Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia bersama pemerintah se-Ciayumajakuning melakukan intervensi pasar, mulai dari pelaksanaan Gerakan Pangan Murah/Operasi Pasar murah, melakukan monitoring harga dan pasokan di pasar, subsidi distribusi pangan, serta penguatan cadangan pangan melalui skema Kerjasama Antar Daerah (KAD). Tidak hanya dari sisi ketersediaan pasokan, dari sisi permintaan Bank Indonesia juga menjaga ekspektasi masyarakat dengan gencar memberikan himbauan belanja bijak melalui berbagai kanal media, baik online maupun offline. 

Salah satu bentuk edukasi belanja bijak adalah melalui pada forum Khotib se-Ciayumajakuning, yang merupakan rangkaian kegiatan Festival Ramadan (FESTRA) 2026 di Kabupaten Majalengka. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran masjid dan para khatib sebagai mitra edukasi, baik untuk menyampaikan pesan-pesan ekonomi syariah maupun himbauan untuk berbelanja bijak kepada masyarakat secara luas. Harapannya, masyarakat dapat menerapkan perilaku konsumsi yang lebih bijak, yaitu belanja dengan rasional dan sesuai kebutuhan, serta tidak berlebihan apalagi sampai menimbun barang. 

Belanja bijak perlu dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat karena perilaku konsumsi yang dilakukan secara kolektif turut memberikan pengaruh pada pergerakan harga di pasaran. Jika perilaku konsumsi yang bijak diterapkan secara luas dan diimbangi dengan pengelolaan pasokan yang baik, inflasi musiman di bulan Ramadan tidak perlu lagi menjadi sumber kekhawatiran masyarakat. Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Jika hal tersebut tecermin juga dalam perilaku konsumsi, maka tidak hanya manfaat spiritual yang dirasakan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberi keberkahan bagi masyarakat. (*)

**) Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili instansi tempat penulis bekerja.

Sumber: