Distribusi Minyak Terpengaruh Perang Timur Tengah, Transaksi Sektor Energi Paling Banyak di PT. EWF Cirebon

Distribusi Minyak Terpengaruh Perang Timur Tengah, Transaksi Sektor Energi Paling Banyak di PT. EWF Cirebon

PANTAU. Kepala Cabang Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman memperkirakan, harga minyak dunia masih terus bergejolak seiring masih berlangsungnya penutupan Selat Hormuz. FOTO : SUWANDI/RAKYAT CIREBON--

CIREBON - Harga minyak dunia terpengaruh perang di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz menimbulkan gejolak harga brent crude oil (BCO). Khususnya bagi negara pengimpor minyak dari Teluk Persia. 

Situasi ini turut memicu fluktuasi harga minyak pada perdagangan berjangka komoditi (PBK). Para pelaku pasar pun terus memantau situasi terkini imbas ketegangan geopolitik tersebut.

Kepala Cabang Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman memperkirakan, harga minyak dunia masih terus bergejolak seiring masih berlangsungnya penutupan Selat Hormuz. 

Bahkan, dalam interval masa perang sejak 28 Februari 2026, harga minyak (BCO) sempat menyentuh level  USD120  per barel sebelum akhirnya mengalami koreksi ke kisaran USD90 per barel.

Ernest menambahkan, Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama transportasi minyak. Bahkan menopang 20% alur kebutuhan minyak dunia. Karena itu, setiap ketegangan geopolitik di wilayah tersebut dapat langsung memengaruhi harga minyak dunia.

“Yang terdampak langsung sebenarnya adalah alur transportasinya untuk minyak sendiri di Selat Hormuz itu,” ujarnya.

Kondisi ini juga tergambar pada kecenderungan pelaku pasar dalam berdagangan minyak. PT EWF Cirebon mencatat, sektor energi saat ini paling banyak ditransaksikan.

“Kami tidak memegang fisik komoditasnya. Kami hanya mentransaksikan pergerakan harganya. Saat harga sedang melonjak seperti sekarang, transaksi menjadi lebih menarik,” jelasnya.

Meski demikian, ketidakpastian mengenai kapan konflik akan berakhir membuat tensi pasar minyak masih relatif tinggi.

“Selama belum jelas kapan perang ini akan berakhir, tensi harga minyak masih akan tetap tinggi,” ungkap Ernest.

Di sisi lain, ia menilai prospek perdagangan minyak (BCO) masih cukup kuat selama konflik geopolitik belum mereda.

“Selama konflik masih berjalan, pergerakan minyak masih menarik untuk ditransaksikan,” katanya.

Meski demikian, Ernest mengingatkan bahwa konflik geopolitik biasanya tidak berlangsung terlalu lama.

Jika ketegangan masih berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, pelaku pasar perlu mulai meningkatkan kewaspadaan.

Sumber: