Tantangan Pengelolaan Air Bersih
JELASKAN. Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMC, Surnita Sandi Wiranata (kiri) menjelaskan terkait tantangan pengelolaan air bersih. FOTO : IST/RAKYAT CIREBON--
RAKYATCIREBON.DISWAY.ID – Isu ketersediaan air bersih menjadi perhatian serius di tengah dinamika pembangunan. Air bersih dinilai bukan sekadar komoditas, melainkan menjadi penopang kehidupan sekaligus stabilitas sosial.
Hal itu disampaikan Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Dr Surnita Sandi Wiranata, kemarin.
Dr Sandi menjelaskan bahwa setiap proyek memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktivitas operasional rutin. Proyek bersifat sementara dan memiliki target hasil yang spesifik.
Menurutnya, kegagalan banyak proyek dalam mencapai target anggaran maupun jadwal sering kali dipicu oleh perencanaan yang kurang komprehensif.
“Keberhasilan sebuah proyek ditentukan oleh keseimbangan tiga elemen utama yang dikenal sebagai Segitiga Emas, yaitu ruang lingkup, waktu, dan biaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan pada salah satu elemen tersebut akan berdampak langsung pada elemen lainnya. Misalnya, penambahan ruang lingkup pekerjaan akan menuntut penyesuaian biaya maupun waktu penyelesaian agar kualitas proyek tetap terjaga.
Prinsip tersebut, lanjutnya, sangat penting diterapkan pada proyek infrastruktur vital seperti Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang memiliki tingkat risiko teknis cukup tinggi.
Sandi juga memaparkan kondisi sumber daya air di Indonesia. Berdasarkan laporan Asian Development Bank (ADB) tahun 2016, ketersediaan air tahunan Indonesia mencapai sekitar 690 miliar meter kubik, jauh di atas kebutuhan nasional yang diperkirakan sebesar 175 miliar meter kubik.
BACA JUGA:Langkah TNI Tanamkan Karakter Cinta Tanah Air Sejak Dini
Namun demikian, kapasitas penampungan air nasional mengalami penurunan signifikan sejak periode 1945 hingga 2019. Saat ini, kapasitas waduk Indonesia hanya sekitar 52,55 meter kubik per kapita, angka yang dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di Asia.
Ia juga menyoroti persoalan kualitas air yang semakin menurun akibat buruknya sistem sanitasi. Sejumlah penelitian menunjukkan tingginya tingkat pencemaran bakteri E. coli pada sumber air di wilayah perkotaan.
“Kuantitas dan kualitas air tanah yang terus menurun memaksa kita untuk mulai beralih pada pengelolaan air permukaan yang lebih masif dan efisien di masa depan,” pungkasnya. (zen)
Sumber: