Makna Gerhana Bulan Total dalam Berbagai Benua di Dunia

Makna Gerhana Bulan Total dalam Berbagai Benua di Dunia

Gerhana Bulan Total. Foto: ISTIMEWA/Rakcer.disway.id--

RAKYATCIREBON.DISWAY.ID - Selama ribuan tahun, manusia selalu terpukau setiap kali menatap langit malam. Tapi, rasa kagum itu sering bercampur ketakutan, apalagi saat Gerhana Bulan Total muncul.

Bayangkan, bulan yang biasanya bersinar terang tiba-tiba gelap dan berubah menjadi merah darah.

Orang-orang zaman dulu jelas tidak menganggap itu hanya sekadar peristiwa biasa. Buat mereka, gerhana jadi pesan dari para dewa, tanda akan datangnya perubahan, atau simbol kalau alam sedang mencari keseimbangan.

Jauh sebelum teknologi astronomi secanggih sekarang, manusia mengandalkan cerita dan tradisi untuk memahami kejadian langit seperti ini. Tiap budaya punya kisahnya sendiri semuanya berusaha menjawab misteri besar di atas sana.

BACA JUGA:Gerhana Bulan Total Akan Hiasi Langit Indonesia. Cek Jadwal Lengkap WIB, WIT, Dan WITA

Benua Asia

Filipina dan Cina (tepatnya Tiongkok Kuno)

Kedua budaya ini sama-sama percaya turun-temurun kalau gerhana bulan terjadi karena ada naga yang melahap bulan. Bedanya, orang Filipina biasanya mengusir naga itu dengan suara keras mereka memukul lonceng, drum, atau panci. Sementara itu, orang Tiongkok Kuno memilih memanah langit untuk mengusir si naga.

Rakyat Jepang & India

Orang-orang dulu di Jepang dan India punya kepercayaan yang mirip soal gerhana bulan, terutama soal makanan. Mereka percaya, waktu bulan berubah merah saat gerhana, itu tandanya bulan sedang keracunan. Konon, racun dari bulan itu bisa jatuh ke bumi. Karena takut, mereka memilih untuk tidak makan dan menutup sumur-sumur air selama gerhana berlangsung. Jadi, buat mereka, gerhana bulan bukan hanya soal langit yang berubah, tapi juga soal menjaga diri dari bahaya yang terlihat.

Bali 

Orang-orang percaya gerhana bulan terjadi gara-gara ada konflik antara Kala Rau, si raksasa, dan Dewi Ratih, sang dewi bulan. Ceritanya, Kala Rau selalu berusaha menelan Dewi Ratih, tapi usahanya gagal karena orang-orang Bali ribut memukul-mukulkan lesung, bikin dia terganggu. Nah, cerita mirip juga hidup di Jawa, cuma bedanya di sana yang dianggap menelan bulan itu Batara Kala, dewa waktu dan kematian.

BACA JUGA:Hasil Borneo FC vs Arema FC Borneo Amankan 3 Point Persaingan Papan Atas Semakin Ketat!

Benua Afrika

Orang-orang Afrika punya cara unik melihat gerhana bulan. Di komunitas Batammaliba, yang tinggal di Togo dan Benin, mereka memaknai gerhana bulan sebagai pertanda matahari dan bulan sedang bertengkar.

Cerita lain di Nigeria. Suku Yoruba di sana percaya gerhana itu semacam pesan dari para leluhur. Biasanya, saat gerhana datang, mereka melakukan ritual pembersihan, berdoa, dan berpuasa. Artinya, supaya energi buruk bisa hilang.

Benua Amerika

Sumber: