Yamaha_detail

Miris, Juara 1 Kaligrafi se Provinsi Jawa Barat Hanya Dapat Piala

Miris, Juara 1 Kaligrafi se Provinsi Jawa Barat Hanya Dapat Piala

BANGGA. Alifa Zahra Sandika bersama kepala dan guru SDN 2 Tukmudal, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon usai meraih pedikat juara pertama dalam ajang Lomba Kaligrafi Putri Pentas Seni PAI SD tingkat Provinsi Jawa Barat. FOTO: ZEZEN ZAENUDIN ALI/RAKYAT CIR--

RAKYATCIREBON.ID, CIREBON - Siswa SDN 2 Tukmudal, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon berhasil menorehkan prestasi gemilang. Yakni menjadi juara 1 Kaligrafi Putri dalam ajang Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) SD tingkat Provinsi Jawa Barat.

Ia adalah Alifa Zahra Sandika, putri dari pasangan Eki Sandika dan Wiliyanti. Saat ini, Alifa masih duduk di kelas V SD. Prestasi yang telah diraihnya itu menjadi pencapaian positif.

Tidak hanya bagi dirinya secara pribadi atau sekolah, sekaligus menjadi torehan positif bagi daerah. Membawa nama baik Kabupaten Cirebon. 

Sayangnya, meskipun mewakili Kabupaten Cirebon, segala akomodasinya dikeluarkan oleh pihak sekolah. Bahkan, ketika meraih predikat juara pun, tak ada perhatian yang diberikan.

“Hanya piala saja. Tidak ada yang lain. Piagam juga tak didapat. Kita malah bikin sendiri. Harusnya kan panitia. Apalagi itu, yang namanya uang pembinaan, tidak ada. Miris. Kan kasihan siswanya,” kata Kepala SDN 2 Tukmudal, Yeyet Nurhayati SPd.

Biasanya, setiap kejuaraan apapun, tidak hanya sebatas piala. Tersedia uang pembinaannya. Sebagai bentuk penghargaan kepada siswa yang sudah berhasil menjadi juara. Namun yang terjadi kali ini, jauh berbeda.

Ia tidak tahu, apakah hanya berlaku bagi siswa yang berasal dari Kabupaten Cirebon saja, atau juga bagi daerah lainnya.  

Meski demikian, perempuan yang sekaligus merupakan Ketua PGRI Kabupaten Cirebon itu tidak mempersoalkan. Hanya menyampaikan keprihatinannya saja. Kenapa bisa terjadi sampai demikian? Harusnya, ada reward yang diberikan. Terlebih, sudah berhasil mengharumkan nama daerah.

“Ini sih, boro-boro. Malah, reward untuk anak itu, diberikan dari guru-guru di sekolah. Sebagai penghargaan dan bentuk apresiasi kita kepada siswa. Biar dia terus bisa mengembangkan diri dan terus berprestasi,” paparnya.

Pihaknya menyayangkan, terutama kepada penyelenggara. Pasalnya, ajang tersebut diselenggarakan di Kabupaten Cirebon. “Boro-boro buat apresiasi bagi peserta yang sudah juara, buat uang kebersihan saja, tidak ada. Semua dibebankan kepada sekolah,” katanya.

Sementara itu, Pembina SDN 2 Tukmudal, Ina Rosalina SPdI ikut mengekspresikan kebahagiaan atas torehan prestasi anak didiknya. Semua itu diraih tidak lepas dari proses panjang yang telah ditempuh. 

"Sekolah kami ini, sangat mendukung pengembangan minat dan bakat siswa. Ada ekstrakurikuler. Kita datangkan pelatih. Seminggu dua kali. Biayanya semua dari sekolah," ucapnya.

Di samping itu, lanjut Ros--sapaan akrabnya, siswa didiknya juga terus menempa diri dengan melakukan latihan ketat. Setiap hari tak pernah absen. Bahkan liburan sekolah pun tak terlewati dengan berlatih.

"Di luar KBM atau ekstrakurikuler. Siswa kami ini, terus berlatih. Hingga membuktikan hasilnya bisa meraih predikat terbaik se Jabar," katanya.  

Sayangnya, meskipun mewakili Kabupaten Cirebon, tapi pembinaannya masih saja menjadi tanggungan pihak sekolah. Yang harusnya menjadi tanggung jawab daerah.

Meski pada intinya, perempuan asal Majalengka itu, tidak mempersoalkannya. "Karena komitmen kami, memang sekolah konsen menggali dan mengembangkan potensi siswa," imbuhnya. 

Saat ini, Alifa Zahra Sandika sendiri sudah duduk di kelas V SD. Dipastikan penggantinya itu sudah ada. Proses regenerasi terus dilakukan. Artinya, kata Ros, sekolahnya masih memiliki siswa potensial. “Jadi kalau dia sudah lulus, sudah ada penggantinya. Kita terus melakukan regenerasi,” pungkasnya. (zen)

Sumber: