Mendengar Kembali Cerita Kiprah Kiai Abbas pada Peristiwa Heroik 10 November

Mendengar Kembali Cerita Kiprah Kiai Abbas pada Peristiwa Heroik 10 November

Sejumlah tokoh sejarah kembali membedah dan menceritakan kiprah Kiai Abbas Buntet dalam peristiwa 10 November, Kamis (21/08). FOTO: ASEP SAEPUL MIELAH/ RAKYAT CIREBON--

*** Banyak Keajaiban Saat Pertempuran, Kiai Abbas Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

CIREBON - Masih dalam suasana kemerdekaan, Universitas Islam Negeri Siber Syekhnurjati Cirebon (UINSSC) menghadirkan kembali ruang untuk membuka memori masyarakat Cirebon terkait dengan tokoh-tokoh daerah yang tidak terlepas dari cerita panjang kemerdekaan, salahsatunya adalah Kh Abbas Abdul Jamil, atau Kiai Abbas. 

Kamis (21/08) kemarin, sejumlah tokoh sejarah kembali membedah dan menceritakan peran dari Kiai Abbas yang sedang diusulkan untuk ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional, dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya dalam mempertahankan kemerdekaan. 

BACA JUGA:Imbas Penolakan PBB-P2 Pemkot Didorong Bentuk Satgas PAD, Tokoh Masyarakat Soroti Transparansi

Kisah heroik Kiai Abbas dalam peristiwa 10 November kembali dikupas, salah satunya dalam buku yang berjudul "Dari Pesantren ke Medan Perang; Kiprah Kiai Abbas Buntet dalam Revolusi Surabaya 1945" yang ditulis oleh Dr H Farid Wajdi MPd serta Jajat Darojat SPdI MSi, dan dibedah dalam forum seminar kemarin. 

Putra dari pahlawan nasional KH Abdul Chalim, yakni Prof Dr Kh Asep Saifudin Chalim ikut hadir dan memberikan gambaran terkait dengan kiprah Kiai Abbas dimasa-masa perjuangan, hingga mempertahankan kemerdekaan. 

"Sejarah Kiai Abbas ini panjang sekali, sejak awal dekat dengan abah saya (KH Abdul Chalim. Red). Kemudian mondok di Makkah, dan disana banyak berkomunikasi dengan tokoh yang kemudian menjadi perintis kemerdekaan," ungkap Asep saat menceritakan kiprah Kiai Abbas, kemarin. 

BACA JUGA:Pansus Hak Angket DPRD Pati Lanjut, Pelayanan Publik Juga Diminta Tetap Jalan

Sepulang dari Maklah, lanjut Asep, Kiai Abbas disibukkan dengan urusan kepesantrenan, namun juga ikut terlibat dalam momen-momen krusial dalam sejarah bangsa. 

Dimulai dari momen sumpah pemuda tahun 1928, Kiai Abbas juga konsen disana, dimana sejak saat itu, saat Bahasa Indonesia dideklarasikan dalam sumpah pemuda, Kiai Abbas menerapkannya di Pondok Pesantren Buntet. 

"Dari hasil keikutsertaan beliau dalam sumpah pemuda, beliau menerapkan bahasa Indonesia sebagai kurikulum di Pesantren Buntet," lanjut Asep. 

BACA JUGA:Pemprov Jateng Terima Penghargaan Pemerintah Daerah dengan Implementasi Industri Hijau Terbaik

Kemudian, berkaitan dengan dunia pendidikan, Kiai Abbas yang merupakan santri dari Hadrotussyeikh KH Hasyim Asy'ari juga ikut memberikan sumbangsih gagasannya. 

Pada tahun 1938, kenang Asep, Kiai Abbas bersama KH Abdul Chalim, menggagas adanya perguruan NU, pada Muktamar NU di Pekalongan, sehingga begitu kuat perjuangan Kiai Abbas menuju Indonesia Merdeka. 

Sumber: