Pembeli Daging Menurun karena Isu Wabah Penyakit Mulut dan Kuku

Pembeli Daging Menurun karena Isu Wabah Penyakit Mulut dan Kuku

SEPI. Pedagang daging sapi di pasar Cigasong mengeluhkan penurunan pembeli, karena isuk PMK dan masih tingginya harga daging. HASANUDIN/RAKYAT CIREBON--

RAKYATCIREBON.ID, MAJALENGKA - Imbas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dirasakan betul oleh para pedagang daging sapi di pasar Cigasong, Kabupaten Majalengka yang pelanggannya sedikit berkurang.

Sebagai perbandingan, sebelum ada wabah PMK, daging yang menggantung secara utuh di kios selalu habis setiap hari.

Salah seorang pedagang daging sapi di pasar Cigasong Majalengka, Amin mengatakan, saat ini harga daging sapi yang dia jual ‎Rp150 ribu per kilogram.

“Wabah PMK sedikit ngaruh, penjualan turun,” ujarnya, Sabtu, (21/5).

Amin menambahkan, soal wabah PMK sebagian pembeli memang rewel. Bahkan ada yang‎ bertanya-tanya tentang keamanan daging sapi yang dia jual.‎

“Ada aja yang nanya-nanya mah, ini daging aman gak? Terjamin ga? Ya itu karena wabah PMK,” ungkapnya.

Amin menjelaskan, meskipun begitu sebagai pedagang daging sapi yang sudah berpengalaman dia tetap sabar menghadapi berbagai pertanyaan dari calon konsumen dan pelanggan setianya.

“Ada penurunan konsumen, masyarakat masih tetap membeli. Cuma ‎yang tadinya beli banyak, sekarang sedikit,” tandasnya.

Di sisi lain, selepas lebaran penurunan jumlah pembeli juga dirasakan oleh para pedagang daging sapi di pasar tersebut.

Salah satu penyebabnya, harganya yang masih di atas harga normal yakni Rp150 ribu per kilogramnya.

“Penurunan konsumen ada, dari sejak muncul isu PMK dan lebaran. Jadi pembeli mah masih ada, cuma menurun setelah lebaran. Saat ini masih Rp150 ribu dari normalnya Rp130 ribu,” jelas Rika, pedagang daging sapi lainnya.

Dia berharap, harga daging sapi jenis lokal yang dijualnya kembali ke harga normal. Selain itu, kasus penyakit mulut dan kuku tidak sampai datang ke Majalengka.

“Harapannya mudah-mudahan (PMK) tidak sampai ke Majalengka lah, cepat beres penyakitnya cepat hilang dan harga daging normal lagi,” katanya. (hsn) 

Sumber: