Produksi Garam Mengalami Penurunan

Produksi Garam Mengalami Penurunan

TERKENDALA. Seorang petani garam beraktivitas memproduksi garam meski terkendala cuaca. Sepanjang musim garam tahun ini, produktivitas garam baru menghasilkan sekitar 5 ton per hektare. FOTO: TARDIARTO AZZA/RAKYAT CIREBON--

INDRAMAYU, RAKYATCIREBON.ID-Angka produktivitas garam di Jawa Barat termasuk Kabupaten Indramayu pada tahun ini mengalami penurunan. Bahkan, terbilang anjlok. 

Para petani garam menyebut penyebab produksi garam anjlok dipicu masa kemarau yang sangat singkat.

Kondisi tersebut menimbulkan kerugian bagi para petani garam. Penurunan produksinya sangat dirasakan dibandingkan dengan produktivitas usaha tambak garam pada tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu salah satunya dialami Robedi, petani garam di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Ia mengaku produksi garamnya menjadi anjlok karena hujan yang kerap mengguyur disaat musim masih kemarau.

BACA JUGA:Wakil Bupati Akhirnya Curhat ke DPRD

Dikatakannya, di wilayah Losarang ada sekitar 2 ribu hektar lahan tambak garam. Kondisi tambak akhir-akhir ini dapat dipastikan sama akibat curah hujan yang turun pada masa produksi. Sehingga produksi garam menjadi terhambat.

Menurutnya dalam kondisi normal, produktivitas garam bisa mencapai 100 ton per hektar. Namun saat ini baru mencapai 10 ton per hektar. 

"Tahun ini tidak terjadi panen raya garam. Panen hanya berlangsung singkat dan curah hujan sudah mulai meningkat," tuturnya, Selasa (11/10).

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik mengatakan, pada 2021 lalu curah hujan tinggi. Meski demikian petani garam bisa mulai menggarap lahan garam pada Agustus dan berakhir di November.

BACA JUGA:Bupati Indramayu Mengaku Sudah Ingatkan Oknum ASN Tersangka Korupsi, Tidak Mau Melindungi

Namun tahun ini, musim kemarau berlangsung lebih singkat lagi. Bahkan pada September dan Oktober ini, intensitas hujan sudah cukup tinggi. "Hujan secara otomatis mengganggu pembentukan garam di lahan tambak. Sehingga produktivitas garam di Jabar di tahun ini turun sangat drastis," jelasnya.

Menurut Taufik, dalam kondisi normal produktivitas garam di Jabar pada Oktober semestinya sudah mencapai 50 ton per hektar. 

Hanya saja, sepanjang musim garam 2022 ini, produktivitas garam baru menghasilkan sekitar 5 ton per hektar. Kondisi ini akibat faktor cuaca, sehingga produktivitas garam jadi rendah.

"Turun sampai 90 persen. Dari segi produksi garam di Jabar dalam kondisi normal, lanjutnya, pada bulan Oktober semestinya sudah mencapai 100 ribu ton. Namun saat ini produksi garam baru di kisaran 20 ribu ton," ungkapnya.

Sumber: