STKIP Yasika Komitmen Cetak Agen Of Change dan Social Control

STKIP Yasika Komitmen Cetak Agen Of Change dan Social Control

MASYARAKAT Indonesia masih percaya dengan hal-hal yang berbau klenik. Diiming-imingi kehidupan yang lebih baik, seseorang bisa melakukan syarat apa saja, asalkan keinginannya tercapai.
Di perusahaan tempatnya bekerja, Tono (50) – bukan nama sebenarnya,--- sebetulnya sudah mendapatkan posisi yang bagus. 
ilustrasi
Ilustrasi akibat ulah dukun palsu. Image by jawapos.com
Namun, warga yang tinggal di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon itu terlalu takut jika posisinya digeser yang pada akhirnya akan mempengeruhi pendapatkan bagi keluarganya. Jabatan hanyala amanah, tidak berlaku bagi Tono. Sebab pada kenyataannya, Tono masih ingin memegang amanah itu, dan tidak mau lepas ke orang lain. 
 
Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan jabatan tersebut. Bahkan, Tono sampai harus mendatangi salah satu “orang pintar”, sebut saja namanya Toni (55),-- bukan nama sebenarnya,-- yang tinggal di salah satu kecamatan di Cirebon Timur.  
 
Selintas, apa yang dilakukan Tono untuk menggunakan “orang pintar” terlihat berhasil. Bukan saja jabatannya tidak lepas, tetapi Tono mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Semakin percayalah Tono kepada Toni. Sehingga apapun yang menjadi hajat Tono, akan selalu dikonsultasikan lebih dahulu kepada Tono, terutama membahas bagaimana peluang kedepannya. 
 
Ketika kepercayaan Tono kepada Toni semakin menjadi-jadi, muncullah niat Toni untuk bermain-main. Selama berhubungan dengan Tono sebagai klienya, Toni rupanya punya hati terhadap istri Tono, sebut saja namanya Tini (42).  Ah, celaka dua belas… 
 
Toni pun membuat taktik untuk bisa lebih dekat dengan Tini. Caranya, Toni mengatakan Tono bahwa ingin “menjaga” Tini, agar selalu mendapatkan kemudahan dalam karir di kantor tempatnya bekerja yang berada di Kota Cirebon. 
 
Tanpa pikir panjang, Tono merestui, dengan harapan istrinya juga mendapatkan kemajuan dalam karirnya, seperti dirinya. Tono tidak keberatan bila kemana-mana harus diantar oleh Tini. Singkatnya, Toni bukan saja menjadi “orang pintar” sebagai penjaga Tini, melainkan sekaligus jadi sopir pribadi Tini. 
 
Singkat cerita, entah terpengaruh apa, Tini pun merespon sinyal rasa dari Toni. Sejumlah teman kerja Tini, bahkan menganggap Toni dan Tini sudah ada affair. Sementara, Tono sebagai suaminya, masih percaya bahwa kedekatan Toni dengan istrinya adalah dalam rangka penjagaan spiritual. 
 
Malapetakan pun muncul, ketika diam-diam Tini menyukai Tino (42), salah satu teman kantornya. Apalagi, karena sebuah tugas kantor, Tini dan Tino, harus sering jalan ke lapangan berdua saja. Toni yang mengetahui kedekatan keduanya, rupanya terbakar api cemburu yang dahsyat. Toni rupanya lupa bahwa sesungguhnya dia pun bukanlah pemilik sahnya. 
 
Puncaknya, Toni memarahi Tini, di depan umum pula. Kepada teman-teman Tini di kantor, Toni malah mengaku selama ini ditugasi Tono, untuk menjaga Tini. Termasuk agar tidak dekat dengan laki-laki lain. “Kecuali dengan saya sendiri,” kata Toni dalam hati. 
 
Tini yang lebih nyaman dengan Tino akhirnya ngambek. Dan balik memarahi Toni.  “Apa-apaan sih kamu,” bentak Tini kepada Toni. 
 
Toni yang masih marah akhirnya melaporkan kelakuan Tini kepada suaminya, Tono. Isi laporannya, bahwa Tini sudah memiliki hubungan khusus dengan teman kantornya. Tono yang tidak percaya begitu saja, akhirnya memanggil istrinya untuk memberikan klarifikasi. 
 
Yang mengejutkan, Tini mengaku bahwa yang sebetulnya sempat punya hubungan khusus adalah antara dirinya dengan Toni, si dukun sableng itu. Tini pun menyodorkan buktinya, berupa satu foto agak mesra antara dirinya dan Toni. “Tapi sekarang sudah tidak lagi. Toni marah karena cemburu saya sering jalan sama laki-laki, teman satu kantor,” kata Tini kepada suaminya.
 
Mendengar pengakuan istrinya, Tono langsung murka. Bukan kepada istrinya, tetapi kepada Toni, si dukun palsu itu. “Kalau tidak dijagain sih sudah dihajar tuh dukun palsunya,” kata salah satu teman dekat Tini, yang saat kejadian berada di rumah Tini. (wan)
 
RAKYATCIREBON.CO.ID - Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STKIP Yasika Majalengka periode 2019-2020 secara resmi dilantik, Sabtu (07/09) akhir pekan lalu.
 
Kepengurusan baru BEM dan Dema tersebut dilantiklangsung oleh Ketua STKIP Yasika Majalengka, Arip Amin, M.Pd bertempat di ruang auditorium STKIP Yasika Majalengka.
 
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama dan Alumni STKIP Yasika Majalengka, Ruly Khoeru Solihin, M.Pd mengatakan, pergantian kepengurusan BEM dan DEMA merupakan salahsatu regulasi yang terus berlangsung terjadi setiap tahun, dimana tujuannya adalah untuk menjaga berlangsungnya estafet kepengurusan dan perkaderan organisasi mahasiswa di lingkungan kampus STKIP Yasika Majalengka.
 
\"Seluruh pengurus BEM dan DEMA yang dilantik hari ini merupakan mahasiswa mahasiwi pilihan, mereka bertugas untuk menggerakan roda organisasi mahasiswa. Karena itu saya meminta kepada para pengurus untuk benar-benar menjalankan roda organisasi dengan penuh tanggungjawab demi kemajuan perguruan tinggi,\" ungkap Ruly.
 
Sementara itu, Ketua STKIP Yasika Majalengka, Arip Amin, M.Pd menambahkan, gerakan pengorganisasian mahasiswa harus berjalan secara seimbang, dimana segala aktivitasnya harus mampu memenuhi kebutuhan mahasiswa dan kepentingan mahasiswa (student need and student interest) secara berkesinambungan.
 
Aktivis HMI Cabang Cirebon era 1998 ini menjelaskan, Student need merupakan kebutuhan dasar untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan nilai yang unggul, dan hal itu tidak boleh mengesampingkan pemenuhan student interest atau kepentingan mahasiswa dalam hal pengakuan publik.
 
\"Mahasiswa harus lebih dekat dengan masyarakat juga stake holder, sehingga mereka mampu menangkap fenomena yang terjadi di masyarakat, mengumpulkan data dan fakta kemudian melakukan perubahan, sesuai dengan fungsinya sebagai Agent of Change,\" jelas Arip
 
Selain sebagai Agent of Change, masih dijelaskan Arip, mahasiswa juga memiliki fungsi sebagai agen social of control, dimana mereka dituntut untuk mampu memberikan saran dan masukan kepada para pengampu kebijakan, sehingga terbangun sinergitas diantara semua komponen yang ada.
 
\"Mahasiswa tidak mungkin menjadi agent of change, sementara mereka tidak memiliki human interest terhadap kejadian yang ada di lingkungannya. Karena itu mahasiswa STKIP Yasika Majalengka dituntut untuk melatih diri agar memiliki kepekaan terhadap berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan kampus, di lingkungan masyarakat, dan lingkungan birokrasi pemerintahan terdekat, sehingga mahasiswa akan memiliki idealism sesuai dengan harapan semua pihak,\" tandas Arip. (sep)

Sumber: