Festival Ngakeul, Mengungkap Kekayaan Budaya Kuningan

Festival Ngakeul, Mengungkap Kekayaan Budaya Kuningan

Emup Muplihudin, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kuningan.--

RAKYATCIREBON.ID, KUNINGAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, perkenalkan budaya leluhur,  yang dinilai mulai luntur tergerus kemajuan teknologi.

Melalui 'Festival Ngakeul' kolaburasi seni, budaya, sastra, dan bidang pendidikan, dihadirkan dalam 7 rangkaian kegiatan.

Kepala Dinas Pendidikan, Uca Somantri melalui Kabid Kebudayaan, Emup Muplihudin memerangkan,  Festival Ngakeul dilaksanakan 2 hari.  Selasa dan Rabu, 11-12 Oktober 2022, di Halaman Gedung Perundingan Linggarjati.

"Festival Ngakeul itu sebuah istilah untuk merepresentasikan beberapa karya budaya milik masyarakat Kabupaten Kuningan. Tahun ini kita batasi sampai 7 kegiatan," terangnya.

7 kegiatan tersebut lanjut dia,  yaitu Cerdas Cermat Kebangsaan, Pameran Karya Bambu, Lomba Baca Puisi Perjuangan, Lomba Musik Bambu, Lomba memasak secara tradisional, Lomba mewarnai untuk anak PAUD, dan Pameran karya yang diikuti oleh masyarakat.

"Kabupaten Kuningan juga memiliki karya-karya budaya, secara kuantitatif banyak, secara kualitatif juga lumayan. Di hari pertama ini, kita mulai Pameran Bambu, ada 5 stand yang kami sediakan. Kemudian babak penyisihan cerdas cermat dari 67 sekolah, dan Lomba baca puisi diikuti 71 peserta dari jenjang SMP - MTs," jelasnya.

Dikatakan, untuk lomba  puisi, diikuti peserta diantaranya membacakan puisi perjuangan, karya sastrawan terkenal, seperti karya Taufik Ismail, Chairil Anwar. Semangat perjuangan ini juga selaras dengan lokasi penyelenggaraan, Gedung Linggarjati, momen bersejarah perjalanan Diplomasi Indonesia dimasa Perang Kemerdekaan.

"Adapun Cerdas Cermat Perjuangan, mengarahkan peserta didik, untuk menggeluti, memahami, membaca, menyimak, mendengar, tentang pengetahuan   keterampilan dan sikap kebangsaan. Saya merasa khawatir, nilai kebangsaan anak anak sekarang tergerus karena banyak pengaruh. Pergaulan, gadget, teknologi dan lain lain," ujarnya.

Acara hari Rabu 12 Oktober, menjadi agenda puncak  Festival Ngakeul, Lomba memasak secara tradisional menjadi hal yang menarik, karena sebagian masyarakat mulai meninggalkan cara memasak ini.

Diantaranya kegiatan 'Ngakeul', sebuah  istilah dalam bahasa sunda, salah satu kegiatan setelah menanak nasi secara tradisional, melibatkan peralatan berbahan bambu yang disebut 'aseupan' dan hihid .  Seperti apa bentuknya lomba ini? Bisa disaksikan menariknya budaya leluhur di Festival tersebut hari Rabu. (Bud)

Sumber: