Trend FOMO YOLO di Medsos Bikin Gen Z-Milenial Sulit Menabung, Lebih Boros Gunakan PlayLater?

Trend FOMO YOLO di Medsos Bikin Gen Z-Milenial Sulit Menabung, Lebih Boros Gunakan PlayLater?

ilustrasi--

RAKYATCIREBON.ID- Generasi Z atau singkatnya Gen Z, dan Milenial kerap dicap memiliki kemampuan manajemen keuangan yang payah akibat gaya hidup yang cenderung lebih boros, sulit menabung, serta tidak terlalu mempedulikan investasi untuk kebutuhan mendatang.

"Ada beberapa faktor yang membuat kaum milenial dan gen Z ini boros dan sulit menabung, seperti akses internet yang memperbolehkan kita melihat dunia yang lebih luas dan juga e-commerce yang mendemokratisasi pembelian barang antar kota, provinsi dan bahkan negara," tutur Felicia dalam keterangan Bank Sampoerna.

BACA JUGA:Peneliti: Literasi Keuangan Rendah, Warga Indonesia Mayoritas Pengguna PayLater 'Unbanked'

"Dengan dua kemudahan ini, milenial dan gen Z cenderung lebih banyak mau dan kemudian boros," imbuhnya.

Ia melanjutkan, tren seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once) yang marak di media sosial, serta tantangan menjadi generasi sandwich pun membelenggu banyak generasi muda.

Di satu sisi, para generasi muda ini cenderung lebih paham dan teredukasi dengan investasi terkini. Namun, mereka lebih sulit mengatur pemikiran dan psikologis terkait tren seperti FOMO dan YOLO, jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

BACA JUGA:Generazi Z-Milenial Penyumbang Kredit Macet Senilai Rp782,16 Miliar, Simak Daftar Perusahaan Pinjolnya

"Mungkin karena faktor usia yang masih muda dan belum melewati banyak krisis ekonomi. Oleh karena itu, Gen Z dan milenial perlu belajar menahan diri terhadap godaan sesaat, memperbaiki mindset investasi dengan menghargai proses dan juga belajar untuk konsisten," kata Felicia.

Keberadaan internet yang mempermudah akses melihat dunia luas dan keberadaan e-commerce yang menjembatani jual-beli barang jarak jauh diklaim menjadi pemicunya.

Mengacu klasifikasi pembagian kelompok generasi yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS), digunakan siklus 15 tahun, Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1997-2012, Milenial kelompok untuk mereka yang lahir antara 1981-1996, Gen X kelompok yang lahir antara 1997-2012, dan seterusnya untuk Baby Boomer dan Pre Boomer.

BACA JUGA: BACA JUGA:Praktis Belanja Pakaian, Makanan Bayar di Restoran, Mayoritas Anak Muda Terjaring PayLater, Ini Datanya

Berdasar klasifikasi tersebut, berarti saat ini, Gen Z berada di kisaran usia 10 - 25 tahun. Ini berarti kebanyakan masih pelajar dan belum punya penghasilan tetap. Hal ini bisa menjadi berbahaya kalau klaim bahwa Gen Z boros terbukti benar.

Seiring dengan perkembangan teknologi, muncul juga layanan pembayaran berbasis kredit di platform digital yakni paylater. Melihat karakteristiknya, paylater menjadi model cicilan atau menunda pembayaran yang ideal dimanfaatkan oleh generasi muda seperti Gen Z maupun Milenial. Namun, di sisi lain hal ini bisa mendorong mereka semakin konsumtif.

Riset perilaku keuangan Milenial dan Gen Z yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) menemukan kalau di dua generasi ini metode paylater memang lebih populer dibanding kartu kredit. Pengguna paylater hampir dua kali lipat jika dibandingkan pengguna kartu kredit di kelompok usia Gen Z dan Milenial. (*)

Sumber: