Dewan Sebut PMK Kejadian Luar Biasa

Dewan Sebut PMK Kejadian Luar Biasa

NAIK DRASTIS. Komisi II DPRD Kuningan menyebut jika wabah Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) sudah dianggap sebagai kejadian luar biasa menyusul lonjakan kasus PMK yang telah menyerang 742 ekor sapi di Kuningan.--

RAKYATCIREBON.ID, KUNINGAN- Komisi II DPRD Kuningan menyebut jika wabah Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) sudah dianggap sebagai kejadian luar biasa. Hal ini menyusul lonjakan kasus PMK yang telah menyerang 742 ekor sapi di Kuningan. Jumlah ini bisa saja bertambah mengingat penyebaran PMK cukup massif. Karena itu diperlukan langkah yang tepat dari pemerintah daerah.

Ketua Komisi II DPRD Kuningan, Apip Firmansyah mengatakan, koordinasi terus dilakukan pihaknya bersama pemerintah daerah untuk menangani wabah PMK. Bahkan pada kesempatan diskusi, terdapat dua hal yang perlu mendapat penanganan yakni peternak maupun hewan ternaknya.

“Kami sudah berkoordinasi dan mengajak berkolaborasi dalam penanganan wabah PMK. Kami lihat Dinas Peternakan dan Perikanan sudah melakukan berbagai upaya. Kemudian juga dilakukan penyemprotan cairan disinfektan, menerapkan lockwon serta upaya lainnya. Ini patut diapresiasi,” ujar Apip.

Tak hanya di lingkup kedinasan, lanjut dia, para peternak juga saling membantu dalam penanganan wabah PMK agar tidak semakin meluas. Karena hingga saat ini masih saja terjadi penambahan kasus PMK. Dia memperkirakan, jumlah ternak yang terkena bisa bertambah. Apip setuju jika meningkatnya jumlah hewan yang terkena PMK masuk dalam kriteria kejadian luar biasa (KLB).

“Kondisi hari ini sebetulnya sudah bisa dikatakan kejadian luar biasa, karena informasinya sekarang sudah ada 740 ekor terjangkit PMK. Belum lagi ada 900 ekor sapi suspect atau dicurigai terpapar wabah PMK, ini penyebaran sudah luar biasa. Sebab saat kunjungan kami di Cipari, itu masih 133 kasus PMK dan sekarang sudah 700 kasus lebih,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai kejadian luar biasa terkait wabah PMK. Apalagi kasusnya telah menyebar di 16 kecamatan seperti Cigugur, Ciawigebang, Kalimanggis, Cibingbin, Cimahi, dan kecamatan lainnya.

"Namun paling tinggi memang masih di wilayah Cigugur. Jadi bukan lagi sapi perah yang terjangkit, sekarang sudah menyerang sapi potong atau pedaging. Kalau di Cigugur kebanyakan sapi perah, di kecamatan lain rata-rata sapi potong. Jadi kami berdiskusi dengan pihak eksekutif, bukan saja ternak yang ditangani tapi juga para peternaknya," sebut Apip.

Pihaknya akan membuat rekomendasi yang akan disampaikan kepada Pimpinan DPRD Kuningan. Rekomendasi itu memuat sejumlah kebijakan strategis dalam penanganan kasus PMK di Kuningan.

Sementara Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Satgas Penanganan PMK Kecamatan Cigugur Jhon Nais memprediksi jumlahnya masih akan terus bertambah mengingat penyakit ini sangat mudah menular meski hanya lewat udara.
Terkait kondisi penyebaran wabah PMK di Cigugur, Jhon yang pernah menjabat sebagai Kepala UPTD Puskeswan Kuningan ini mengatakan, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Kuningan untuk penanganannya. Namun demikian, dia memastikan, setiap kawasan peternakan sapi khususnya yang berada di empat kawasan yang sudah ditemukan kasus PMK kini sudah diberlakukan lock down.
Jhon menegaskan, bahwa tidak boleh ada mobilisasi sapi yang masuk ataupun keluar dari kandang untuk mencegah penularan. Selain itu, para peternak diminta semakin gencar menjaga kebersihan sapi dan kandang dan tidak lupa menyemprotkan disinfektan. (bud)

 

 

 

Sumber: